People i following
Close
Stuff I Like
See more stuff I like
Close
  1. (Source: frederatorbooks)

  2. Kalau lilin kedamaian, lilin cinta dan lilin kebahagiaanku mati, maka sisakan untukku lilin harapan. Biar kunyalakan kembali 3 lilin hidupku dengan lilin harapan yang masih tersisa
  3. Kata Kakung, paku dari besi yang tajam itu diibaratkan sebagai kesalahan. Saat kita tidak mampu mengontrol emosi, saat kita ingin maraha dan mencaci maki, kita lemparkan paku itu ke tembok. Kalau kita marah hingga 100 kali alam sehari, maka 100 paku harus tertanam dalam tembok.

    Pelah, perlahan, kita mulai mampu mengontrol emosi, makin sedikit dalam satu hari kita lemparkan paku ke tembok, itu artinya kita berhasil mengurangi emosi kita. Dan akan tiba waktunya dalam 1 hari kita tidak lagi melemparkan paku.

    Setelah paku tidak lagi kita lemparkan, setelah kita mampu mengontrol emosi kita, Kakung bilang, mulailah cabut paku yang ada di tembok itu sebagai tahap selanjutnya. Setiap kita mampu bersabar dan memaafkan orang lain lain, cabutlah paku yang ada di tembok. Hari demi hari, paku itu akan habis. Dan jika kita melalui tahap ini kita sudah terdaftar dalam anak yang mau berubah menjadi lebih baik.

    Tapi, selanjutnya, kita lihat tembok yang telah kita lempari paku. Paku paku itu memang berhasil dicabut. Namun, tembok akan tetap seperti tadi. tidak akan kembali seperti semula lagi. Banya lubang dan retakan di tembok. Dan itu sebuah pelajaran juga, bahwasanya

    Tiap kali kita melukai orang lain, selmanya luka itu tidak bisa dihapuskan. Sekalipun kita sudah bersabar, meminta maaf dan mencabut kemarahn

  4. Apa yang ada di benak kalian saat mendengar kata pensil? Pensil itu alat tulis atau lukis yang terbuat dari grafit. Tapi bukan sekedar itu. Ada sebuah nasehat yang aku ingat di balik pensil itu. Bahwasanya pensil memilik 5 kualitas yang harus ada dalam diri kita

    “Kualitas pertama,

    Pensil mengingatkan kita kalau kita bisa berbuat hal yg hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kita jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kita dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya.”

    “Kualitas kedua,

    Dalam proses menulis, kita kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil kita. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kita, dalam hidup ini kita harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuat kita menjadi orang yg lebih baik.”

    “Kualitas ketiga,

    Pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar.”

    “Kualitas keempat,

    Bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah menyadari hal-hal di dalam diri kita. Instropeksi diri & jangan menyalahkan orang lain terlebih dahulu.”

    “Kualitas kelima,

    Sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kita, kita harus sadar kalau apapun yg kita perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan agar tidak menyakiti orang lain.”

    Well guys, luar biasa pensil itu. Ayo kita belajar padanya utuk mendapatkan kualitas terbaik untuk hidup kita 

  5. ketika tulang kakiku harus dikeluarkan dan perbaiki, saat itu pula aku paham bahwa kekurangan itu menyakitkan. Maka jika mereka yang bekerja dalam tubuhku sudah tak lagi dipergunakan oleh ragaku, memberikannya kepada insan yang membutuhkannya adalah keberbagian yang indah.
  6. Suatu hari, seorang pemuka agama dimintai bantuan oleh seorang wanita malang yang tidak punya tempat berteduh.
    Karena sangat sibuk, pemuka agama itu berjanji akan mendoakan wanita tersebut.

    Beberapa saat kemudian wanita itu menulis puisi seperti ini :

    Saya kelaparan …
    dan Anda membentuk kelompok diskusi untuk membicarakan kelaparan saya

    Saya tergusur …
    dan Anda ke tempat ibadah untuk berdoa bagi kebebasan saya

    Saya ingin bekerja ….
    dan Anda sibuk mengharamkan pekerjaan yang Anda anggap tidak pantas, padahal halal dan saya membutuhkannya

    Saya sakit …
    dan Anda berlutut bersyukur kepada Allah atas kesehatan Anda sendiri

    Saya telanjang, tidak punya pakaian …
    dan Anda mempertanyakan dalam hati kesopanan penampilan saya,
    bahkan Anda menasehati saya tentang aurat.

    Saya kesepian …
    dan Anda meninggalkan saya sendirian untuk berdoa

    Anda kelihatan begitu suci, begitu dekat kepada Allah
    tetapi saya tetap amat lapar, kesepian, dan kedinginan …

    Setelah membaca puisi itu …
    Pemuka agama tadi terharu dan berkata : “kasihan wanita itu” … lalu sibuk berdoa kembali,dan wanita itu tetap tidak memperoleh tempat berteduh.

    Sahabat, dalam memberi bantuan, kita sering lebih banyak menyampaikan teori, nasihat, atau perkataan-perkataan manis.
    Namun, sedikit sekali tindakan nyata yang kita lakukan.
    Berusahalah untuk membantu orang, mengasihi orang, bukan hanya dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan nyata.

    Orang-orang bijak mengatakan :

    Satu perbuatan nyata, sekecil apa pun, jauh lebih berarti dibandingkan seribu kata-kata indah.
    Satu perbuatan nyata sama dengan seribu kata-kata indah.
    Satu perbuatan nyata akan mengundang beberapa perbuatan nyata lainnya.

    Marilah setiap hari kita (kami dan Anda) membiasakan dengan minimal SATU perbuatan nyata (tentu saja perbuatan baik untuk membantu orang lain).
    Ini akan MENGUNDANG perbuatan-perbuatan baik lainnya.

    Alangkah indahnya membiasakan diri berbuat nyata (berbuat baik).

Melani Sub Rosa © by Rafael Martin